Metode Peningkatan Mutu

Apa saja Metode Peningkatan Mutu? oleh Konsultan ISO 9001 – Change Konsultan

Dalam melakukan peningkatan mutu kita dapat dibantu oleh beberapa metode atau dapat juga disebut alat untuk meningkatkan mutu. Apa saja metode dan alat peningkatan mutu itu? Berikut ini berberapa metode dan alat yang paling sering digunakan oleh Tim Peningkatan Mutu perusahaan.

A. Kertas Periksa.

Kertas periksa adalah metode yang digunakan untuk mengumpulkan data. Seperti kita ketahui langkah pertama untuk melakukan peningkatan mutu adalah mengetahui di posisi mata saat ini kita berada. Nah untuk itu dibutuhkan analisis data kondisi sekarang untuk mengetahui kinerja saat ini.

Dalam mendesain sebuah kertas periksa kita harus mengetahui telebih dahulu data apa yang akan kita kumpulkan. Sehingga kita kemudian menentukan berapa banyak jenis data yang akan kita kumpulkan. Data-data ini disusun berdasarkan kolom-kolom yang kita desain dalam kertas periksa. Desain kertas periksa ini akan memudahkan pada saat penggunaannya, sehingga data yang dibutuhkan dapat dituliskan dengan lengkap.

Sebagai contoh : Kita ingin mengukur berapa lama setiap pasien menunggu sampai dipanggil oleh dokter di sebuah poliklinik. Data apa saja yang harus kita kumpulkan. Secara sederhana kertas periksa kita buat kolom : ‘nama pasien’, ‘nomor antrian’, ‘jam mendaftar’, ‘jam dipanggil’ dan ‘lama menunggu’.

Setelah kertas periksa selesai kita siapkan, baru kemudian kita menggambil data dengan mengamati pelaksanaan pelayanan pasien di poliklinik. Dari data ini dilakukan analisis untuk kemudian diambil kesimpulan untuk melakukan peningkatan mutu

Pengumpulan data dengan menggunakan kertas periksa ini adalah metode dan alat dasar dalam melakukan peningkatan mutu.

Pareto Chart

Konsultan ISO Continuous Improvement

B. Diagram Pareto

Diagram Pareto digunakan untuk memperbandingkan berbagai kategori kejadian yang disusun berdasarkan besarnya kejadian atau ukuran. Diurutkan dari yang paling besar di sebelah kiri kemudian yang kedua paling besar di sebelah kanannya dan seterusnya sampai yang paling kecil kejadian atau ukurannya.

Susunan besarnya kejadian atau ukuran ini akan membantu Tim Peningkatan Mutu untuk menentukan prioritas atau tingkat kepentingan yang akan dilakukan peningkatan mutu. Artinya dengan Diagram Pareto ini Tim Peningkatan Mutu akan memusatkan perhatian pada kejadian dan ukuran pada kelompok yang paling besar.

Diagram Pareto dapat digambarkan dengan menghubungkan jumlah kejadian dan kategori ‘masalah’ yang akan kita lakukan peningkatan mutu. Kembali ke contoh pengukuran waktu tunggu pasien di sebuah poliklinik. Katakanlah ‘lama menunggu’ merupakan masalah yang akan kita lakukan peningkatan mutu. Maka kita akan membuat Diagram Pareto dengan cara sebagai berikut :

  • Buat kategori ‘lama menunggu’ menjadi beberapa kelompok misalnya : ‘Di atas 1 jam’, ’45 menit sd 1 jam’. ’30 menit sd 45 menit’, 15 menit sd 30 menit’ dan ‘di bawah 15 menit’
  • Kemudian data yang sudah kita kumpulkan dengan Kertas Periksa tadi kita buat Diagram Pareto dengan sumbu x adalah kategori ‘lama menunggu’ dan sumbu y adalah ‘jumlah pasien’
  • Dengan Diagram Pareto ini kita dapat gambaran berapa banyak pasien yang menunggu lebih dari waktu standar pelayanan yang ditargetkan

Setelah mengetahui berapa besar ‘masalah’ yang ada saat ini, baru kemudian Tim Peningkatan Mutu melakukan analisis akar masalah yang menyebabkannya. Diagram Pareto ini digunakan untuk mengetahui ‘masalah’ apa yang harus diselidiki lebih lanjut.

Konsultan ISO – Change Konsultan akan membantu Tim Peningkatan Mutu untuk dpat menentukan prioritas peningkatan mutu, membantu memsuatkan perhatian pada ‘masalah’ yang signifikan dan membantu merubah data menjadi informasi yang berguna bagi Manajemen. Sekumpulan data yang dikumpulkan melalui Kertas Periksa harus dianalisis menjadi informasi. Dan salah satu langkah pertamanya adalah menggunakan Diagram Pareto ini untuk menentukan prioritas peningkatan mutu yang akan diusulkan kepada Manajemen.

Baca Juga :